Pengumuman lomba

1. SUIJI EHIME JEPANG

Dalam rangka kerjasama SUIJI (Six-University Initiative Japan indonesia) pada tahun 2013, Ehime University menawarkan program “Sustainability in Rural Japan: a look at the social and physical problems” yang diselenggarakan selaam dua pekan dengan disponsori oleh pihak JASSO (Japan Student Service Organzation). more »

Category: news  Leave a Comment

Meranti dan Angin

Hidup adalah hanya tentang jalan cerita pertahanan dari seorang makhluk. Dalam terpaan terik ataupun badai sekalipun. Demi kehidupan yang layak dan asasi. Demi untai nafas yang telah disiapkan Sang Khalik.

Manusia hanya sekedar mampu bertarung dengan sikap mereka yang kekanak-kanakkan. Lalu takdir lah akan menentukan dimana manusia itu tumbuh. Mereka tidak memiliki pilihan ketika datang. Tapi mereka berkuasa untuk memilih selama hari berjalan. Tetapi, anak-cucu Iblis akan selalu memperkuat medannya, agar kita, kaum manusia, tergiring untuk terperosok ke dalam jurang kegelapan.

Realita hanya akan terpapar logika. Waktu dimana baling-baling kehidupan tergerak, Angin juga menghendaki rumput untuk bergerak seragam. Mereka tak berdaya untuk melawan. Ya, Hebat! Angin adalah diktator tak terbantahkan. Tak terdengar satu pun gerutu kaum ilalang. Mereka menurut pada ‘Abiotik Perusak’ itu. Padahal, jika Angin bertelinga jamak, pasti ia mampu mendengar aduan para helai daun itu pada Tuhan.

Meranti kecil tumbuh diantara kerumunan semak. Tempat yang bukan seharusnya untuk hidup sendiri, melanjutkan detak induknya, yang kini menjadi singgasana para jamur kayu. Layu, basah dan tak bernilai. Pohon muda itu tidak menyukainya.

Meranti menikmati setiap 12 jam kehadiran matahari di negeri iklim tropic. Melalui setiap tetesan air Tuhan yang mengokohkan kakinya, menegakkan tubuhnya, menguatkan jemarinya dan menegakkan kepalanya. Dan betapa ia telah mengenal watak Angin.

 ‘Penguasa itu akan kebingungan karenaku!’ sugesti dalam pikirannya. Karena itu ia berjanji, kelak, ia akan menjadi Penantang Angin.

Meranti itu optimis, suatu saat ia mampu merobek langit dan mengurangi jatah kuasa Angin. Menantangnya, Dia yang senang merusak belukar dan jati.

Matahari muncul membawa gurat jingga setiap pukul 6. Ketika itulah ia mulai meregang semua rantingnya, berharap mungkin lengannya akan bertambah panjang. Ia berkeramas terik selama 12 jam, fikirnya matahari akan membuat rambutnya makin lebat dan hijau. Seringkali Angin meniupkan bayu jahilnya, tetapi Meranti tak sedikitpun goyah.  ‘Angin hanya sekelompok udara yang datang menerpa wajahku! Tidak lebih.’

Lalu 12 jam lagi ia gunakan untuk memberi nafas pada seluruh tubuhnya yang lelah atas pancaran matahari.

Suatu hari di kemarau pertama si pohon kecil, hari terasa sangat panas. Sudah 14 hari ia mandi matahari tanpa jeda. Kaki-kakinya mulai merasa panas, pertanda air tanah makin tertarik gravitasi. Rambut-rambutnya yang semula segar, beberapa kini mulai terlihat usang kilau kuning hingga kecoklatan diterpa sinar. Ia tetap berusaha tegar ditengah panas yang membakar. Beruntung tidak ada bara yang memakan rumput kuning sekitarnya, karena itu akan membuat semuanya kian menjauhi keadaan baik.

Horizon tidak membutuhkan ego dan seluruh kesendirian. Ia lalu pergi dengan menarik gradasi sejuta warna menjadi kemerahan langit di tepi barat garis mata. Senyap. Hari menjadi malam.

****

Meranti tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Ia telah mampu menaungi jewawut di bawahnya. Membawa kesejukan dan ketenangan bagi para semut pekerja. Tubuhnya semakin bagus, ia rajin menyusun sel di ujung-ujung kaki, jemari dan rambutnya. Ia makin siap untuk menantang Angin.

Dahulu induknya pun adalah Penantang Angin. Menurut cerita para tetua ilalang, dulu ayahnya adalah petarung badai. Dan Angin tak lelah untuk menumbangkannya tiap kali hujan turun.

Tetapi, suatu ketika desau angin tak lagi bermakna. Betapa puasnya perusak itu ketika benda bergerigi memekikkan suara gesekan antara besi dengan kayu ke udara. Sang ibu pun tak kuasa lagi menangkal terpaan Angin. Ia rapuh dan akhirnya rebah saat badai pertama tanpa sang ayah.

Hidup sendiri memang bukan sesuatu yang sederhana. Tapi kian detik berjalan, kian subur keyakinan dalam dirinya. Bahwa ia akan menjadi seorang pemenang. Bahwa ia masih mewarisi ketangguhan sang ayah. Andaikan indukan betinanya bisa melihat gejolak hasratnya kini, ia pasti bangga.

Sebelum Meranti kecil menegakkan batang pertamanya, sebelum gelondongan padat berubah menjadi onggokan kayu keropos, si ibu pernah berpesan pada rumput gajah di dekat tubuhnya, “suatu saat nanti, jika putraku berhasil melihat matahari, kuharap kau mau melilit di kakinya. Agar ia tak terhuyung melawan arus angin permulaanya. Agar ia masih mampu tertawa ketika mampu bertahan setelah badai. Agar ia mampu membawa dirinya menikmati uap air yang menetes.”

****

Hari ini, adalah musim kelahirannya. Hujan. Semester hujan keempat. Tingginya baru sekitar rumah 2 lantai. Cukup memuaskan untuk pohon yang tumbuh sendirian. Tetuanya tidak pernah mewariskan gen gemuk pada Meranti. Ia tinggi dan proporsional. Helai rambutanya yang pernah kekuningan, kini luntur karena rintik air. Kembali hijau.

Ia bahagia atas hidupnya, untuk berkah yang diturunkan Tuhan, dan untuk kesempatan menjajal tanah bumi. Ia bersyukur atas kuasa Tuhan yang membawanya dalam hidup di negeri ekuator. Bau hujan telah menjadi hal yang lumrah dalam paginya. Benaknya terbuka, seolah ia telah melihat seluruh bentuk daun dan bentuk mata hewan.

Makin malam, ia makin dewasa. Makin terik, ia makin berfikir. Ia membulatkan asa, bahwa ia akan menjadi Penantang Angin. ‘Aku Pasti Bisa!’. Kumparan rumput dan belukar hanya tersenyum untuk tekadnya. Untuk memberikan suatu kepuasan atas rindu pada Ayahnya. Ya! Meranti yang tak lelah bermimpi. Tak pernah gusar untuk meraih inginnya. Dan ia, tak pernah takut jika ada Angin , karena hatinya selalu tegar. Membuat batangnya mematung dan tetap tegak. Ia tahu, bahwa semakin ia mencoba kuat, Angin akan semakin memusatkan targetnya. Menumbangkanya.

Semoga harap tak akan hanya menjadi isyarat. Dan kelak, purnama akan menjadi saksi buah kesabarannya. Kemudian senja akan membawa kabar ini pada sang Ayah di benua barat dan sang Ibu di sela-sela saprofit lembap. Hamburkan setiap cita tanpa perlu takut akan gagal. Karena bagaimanapun, debu harapan itu pasti melayang sampai ke genggam Tuhan. Senja di batas dua dunia, membuatnya rindu. Seret jingga terus menurun dan menghitam. Senyap. Hari menjadi malam.

****

Meranti (source : www.arkive.org)

Keninda Firmana, 21 Mei 2009

Perfect practice make perfect.” @kenindafirmana

 

Category: Script  Leave a Comment
  • February 2015
    S M T W T F S
    « Mar    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • departemen gue nih B)

    IPB Badge
  • Categories